Selasa, 08 Februari 2011

Fisiologi pubertas pada wanita

Pubertas pada wanita
Pubertas adalah tahapan maturasi fisik di mana individu menjadi mampu secara fisiologis untuk reproduksi. Perubahan yang terjadi selama pubertas dipengaruhi oleh faktor neurohormonal yang memodulasi pertumbuhan somatis dan pembentukan organ seksual. Semua mekanisme yang terjadi selama pubertas merupakan hasil dari aktivasi sumbu (jalur) hipotalamus-hipofisis-gonad. Aktivasi sumbu ini bertanggung jawab terhadap perubahan-perubahan biologis, morfologis, dan psikologis selama pubertas.
Tanner membagi tahapan yang terjadi selama pubertas. Tahapan ini dibagi menjadi dari T1 sampai T5, di mana T1 identik dengan perkembangan masa anak-anak dan T5 identik dengan maturitas penuh.
Pada wanita, pubertas diawali dengan munculnya karakter seks sekunder pada usia sekitar 10,5 tahun. Terkadang pubertas bisa muncul lebih awal dan bisa juga lebih cepat. Pubertas dikatakan prekoks (prematur) apabila tanda-tanda seks sekunder muncul pertama kali sebelum usia 8 tahun dan dikatakan terlambat jika muncul pada saat menginjak usia lebih dari 13 tahun.
Perkembangan karakter seks sekunder pada wanita meliputi pembesaran ovarium, uterus, vagina, labia, payudara, serta tumbuhnya rambut pubis dan aksila. Di antara semuanya, yang pertama kali muncul adalah pembesaran payudara (telarche) dan diikuti tumbuhnya rambut pubis-aksila 6 bulan setelahnya. Sedangkan uterus mencapai ukuran sesuai T4 menurut Tanner (hampir matur) ketika menstruasi pertama kali (menarche). Beberapa hal penting lain yang terjadi selama pubertas wanita antara lain adanya pacu tumbuh adolesen (suatu percepatan pertumbuhan tinggi badan) dan munculnya jerawat (acne vulgaris) pada usia sekitar 11-14,5 tahun. Menarche sendiri muncul antara usia 12,5-13 tahun. Pada pubertas prekoks, menarche terjadi pada usia 10 tahun sedangkan pada pubertas terlambat menarche baru muncul hingga usia 15 tahun. Siklus ovulasi pada wanita terjadi sekitar 9-10 bulan setelah menarche.
Pubertas dapat dikatakan telah lengkap dalam 3-4 tahun setelah onset pertama, dan pertumbuhan somatik (tinggi badan) masih bisa berlangsung 2 tahun setelahnya (jadi kira-kira 5-6 tahun setelah onset pertama pubertas).
Beberapa istilah yang sering digunakan dalam tanda-tanda seks sekunder pada wanita antara lain (1) telarche, yaitu pembesaran payudara, (2) pubarche, yaitu tumbuhnya rambut pubis, (3) menarche, yaitu menstruasi yang pertama kali terjadi, dan (4) adrenarche, yaitu tumbuhnya rambut aksila sebagai akibat peningkatan androgen dari adrenal.
Inisiasi pubertas pada wanita
Sistem reproduksi wanita belum aktif sampai usia pubertas. Hal ini disebabkan adanya penekanan (supresi) aktifitas GnRH hipotalamus pada fase prepubertas (anak-anak). Penekanan terhadap aktifitas GnRH ini menghilang (diinhibisi) ketika memasuki usia pubertas. Mekanisme apa yang mengatur sehingga penekanan tersebut diinhibisi masih belum dipahami sepenuhnya.
Perubahan fisik yang terjadi selama pubertas pada wanita
Untuk mempermudah pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi selama pubertas pada wanita, Tanner menggolongkannya menjadi beberapa tahapan yang ditandai dengan dari T1 (Tanner 1) sampai T5.
Tanner (T) Perkiraan usia Telarche Pubarche Kecepatan pertumbuhan tinggi badan/tahun Lain-lain
1 10 tahun atau kurang Elevasi puting susu, areola masih sejajar dengan permukaan dada Tidak ada rambut, atau ada rambut namun bentuknya seperti vilus 5-6 cm Adrenarche
2 10-11,5 tahun Tunas payudara bisa teraba, areola membesar Rambut jarang, sedikit berpigmentasi 7-8 cm Pembesaran klitoris, pigmentasi labia
3 11,5-13 tahun Payudara melebar melebihi batas areola Menjadi lebih kasar, gelap, dan keriting 8 cm Acne vulgaris, rambut aksila
4 13-15 tahun Putting susu berada di atas bukit areola Tipe dewasa, namun penyebarannya sebatas pubis <7cm Menarche 5 15 tahun atau lebih Integrasi puting susu Tipe dewasa dan penyebarannya hingga ke paha sebelah dalam Mencapai tinggi maksimal pada usia 16 tahun Organ genital dewasa Pengaruh hormonal Perubahan yang terjadi selama pubertas, baik pemunculan karakter seks primer maupun sekunder, semuanya diregulasi neurohormon. Ada banyak hormon yang mengatur hal tersebut, dan cara kerjanya saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Secara garis besar terdapat tiga hirarki hormonal yang berperan saat pubertas pada wanita yaitu (1) Gonadotopin-releasing hormone (GnRH) yang dihasilkan oleh hipotalamus, (2) Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH) yang dihasilkan oleh hipofisis anterior sebagai respons atas GnRH, dan (3) Estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh ovarium sebagai respons atas FSH dan LH. 1. Gonadotopin-releasing hormone (GnRH) GnRH adalah hormon peptida yang dihasilkan oleh hipotalamus, yang menstimulasi sel-sel gonadotrop pada hipofisis anterior. Di hipotalamus sendiri pengeluaran GnRH diatur oleh nukleus arkuata. Neuron pada nukleus arkuata memiliki kemampuan untuk memproduksi dan melepas gelombang GnRH ke hipofisis. 2. Gonadotopin Gonadotropin pada wanita meliputi Follicle-stimulating hormone (FSH) dan Luteinizing hormone (LH). Baik FSH dan LH disekresikan oleh kelenjar hipofisis anterior pada usia antara 9-12 tahun. Efek dari sekresi hormon tersebut adalah siklus menstruasi yang terjadi pada usia sekitar 11-15 tahun. Periode ini dikatakan pubertas sedangkan siklus menstruasi pertama disebut menarche. FSH dan LH bekerja menstimulasi ovarium dengan berikatan pada reseptor FSH dan reseptor LH. Reseptor yang teraktivasi akan meningkatkan laju sekresi sel, pertumbuhan, dan proliferasi sel. Aktivitas ini diperantarai oleh cAMP. • Follicle-stimulating hormone (FSH) FSH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein, diproduksi di sel gonadotrop hipofisis, distimulasi oleh hormon aktivin dan dihambat oleh hormon inhibin. FSH berfungsi dalam pertumbuhan, perkembangan, maturasi saat pubertas, dan reproduksi. Pada wanita, FSH menstimulasi maturasi sel-sel germinal, menstimulasi pertumbuhan folikel terutama pada sel-sel granulosa dan mencegah atresia folikel. Pada akhir fase folikular kerja FSH dihambat oleh inhibin dan pada akhir fase luteal aktivitas FSH kembali meningkat untuk mempersiapkan siklus ovulasi berikutnya, demikian seterusnya. Kerja FSH juga dihambat oleh estradiol (estrogen) yang dihasilkan oleh folikel matang sehingga menyebabkan folikel tersebut dapat mengalami ovulasi sedangkan folikel lainnya mengalami atresia. • Luteinizing hormone (LH) LH merupakan hormon yang memiliki struktur glikoprotein heterodimer, diproduksi di sel gonadotrop hipofisis dan kerjanya tidak dipengaruhi oleh aktivitas aktivin, inhibin, dan hormon seks. Pada saat FSH menstimulasi pertumbuhan folikel, khususnya sel granulosa, maka pengeluaran estrogen akan memicu munculnya reseptor untuk LH. LH akan berikatan pada reseptornya tersebut dan estrogen akan mengirim umpan balik positif untuk mengeluarkan lebih banyak lagi LH. Dengan semakin banyaknya LH, maka akan memicu ovulasi (pengeluaran ovum) dari folikel sekaligus mengarahkan pembentukan korpus luteum. Korpus luteum yang terbentuk akan menghasilkan progesteron yang berguna pada saat implantasi. 3. Estrogen dan progestin Estrogen Pada wanita yang sedang tidak hamil, estrogen diproduksi di ovarium dan korteks adrenal, sedangkan pada wanita hamil estrogen juga diproduksi di plasenta. Ada tiga macam estrogen yang terdapat dalam jumlah signifikan: β-estradiol, estrone, dan estriol. β-estradiol banyak diproduksi di ovarium sedangkan estrone lebih banyak diproduksi di korteks adrenal dan sel-sel teka. Adapun estriol adalah turunan β-estradiol dan estrone yang sudah dikonversi di hati. Karena β-estradiol memiliki potensi estrogenik 12 kali lebih kuat dibanding estrone dan 80 kali lebih kuat dari estriol, maka β-estradiol dikatakan sebagai estrogen mayor. Efek dari estrogen adalah menstimulasi proliferasi seluler dan pertumbuhan organ seks dan jaringan lainnya terkait reproduksi. Berikut adalah efek estrogen secara spesifik: • Uterus dan organ seks eksternal Pada masa pubertas, estrogen diproduksi sekitar 20 kali lipat lebih banyak dibanding masa prepubertas. Peningkatan kadar hormon ini, bersamaan dengan penimbunan lemak, menyebabkan perubahan-perubahan spesifik yaitu pembesaran ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Estrogen juga mengubah epitel vagina dari epitel kuboid menjadi epitel bertingkat yang lebih resisten terhadap trauma dan infeksi. • Tuba fallopi Estrogen menyebabkan proliferasi jaringan pada lapisan mukosa tuba fallopi. Selain itu estrogen juga meningkatkan jumlah dan aktivitas sel-sel silia, yang penting dalam pergerakan ovum yang telah difertilisasi. • Payudara Estrogen menyebabkan perkembangan jaringan stromal pada kelenjar payudara, pertumbuhan sistem duktus, serta deposisi lemak. Lobulus-lobulus dan alveoli berkembang menjadi lebih luas. • Sistem rangka Estrogen menghambat aktivitas osteoklas sehingga mengurangi penyerapan osteosit dan meningkatkan pertumbuhan tulang. Estrogen juga menyebabkan penyatuan epifisis pada tulang-tulang panjang. Diketahui bahwa efek estrogen pada wanita lebih kuat dibandingkan efek testosteron pada pria, namun penghentiannya yang cepat menyebabkan wanita cenderung lebih pendek dibanding pria. • Deposisi protein Estrogen menyebabkan peningkatan protein total tubuh, hal ini dibuktikan oleh keseimbangan nitrogen yang lebih positif setelah pemberian estrogen. Namun jika dibandingkan dengan testosteron, efek deposisi protein yang ditimbulkan oleh testosteron lebih kuat dibandingkan estrogen. • Metabolisme tubuh dan deposisi lemak Estrogen meningkatkan laju metabolik tubuh, namun lebih lemah jika dibandingkan dengan efek yang sama oleh testosteron pria. Selain itu estrogen juga meningkatkan jumlah lemak subkutan dan mendeposisinya pada daerah-daerah tertentu seperti payudara, bokong, dan paha sehingga memunculkan gambaran melekuk wanita yang khas. • Distribusi rambut Estrogen tidak memiliki efek besar terhadap pendistribusian rambut. Adapun tumbuhnya rambut di daerah pubis dan aksila merupakan peran dari androgen adrenal. • Kulit Estrogen menyebabkan kulit wanita memiliki tekstur yang lembut dan halus namun lebih tebal jika dibandingkan dengan kulit anak-anak. Selain itu estrogen juga menyebabkan kulit menjadi lebih vaskular. Hal ini sering diasosiasikan dengan peningkatan suhu pada kulit dan perdarahan yang lebih banyak jika terjadi sayatan pada kulit wanita dibandingkan dengan kulit pria. • Kesetimbangan elektrolit Estrogen menyebabkan retensi air dan sodium oleh tubulus-tubulus ginjal. Progestin Progestin terpenting adalah progesteron. Pada wanita yang sedang tidak hamil, progesteron diproduksi oleh korpus luteum pada paruh terakhir siklus ovarium. Fungsi progesteron berdasarkan organ yang dipengaruhinya adalah: • Uterus Fungsi terpenting progesteron adalah meningkatkan perubahan sekretorik pada endometrium uterin selama paruh akhir siklus seksual sehingga mempersiapkan uterus untuk implantasi ovum. Selain itu progesteron juga mengurangi frekuensi dan intensitas kontraksi uterine, sehingga dengan demikian mengurangi risiko terjadinya peluruhan ovum yang telah diimplantasi. • Tuba fallopi Progesteron meningkatkan sekresi lapisan mukosa yang ada pada tuba fallopi. Sekresi ini diperlukan untuk nutrisi ovum yang telah difertilisasi sebelum mengalami implantasi. • Kelenjar payudara Progesteron memicu perkembangan lobulus dan alveoli pada payudara, menyebabkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar, dan menjadi sekretorik. Namun progesteron tidak berperan dalam sekresi ASI. Progesteron juga menyebabkan pembesaran kelenjar payudara karena peningkatan cairan di jaringan subkutan. 4. Hormon lain Selain dari hormon yang sudah disebutkan di atas, terdapat hormon lain yang juga berperan dalam pubertas. Namun tidak seperti hormon di atas, hormon lain ini kurang/tidak mempengaruhi perkembangan seks primer dan hanya mempengaruhi perkembangan karakter seks sekunder. • Prolaktin Pada perkembangan kelenjar payudara di masa pubertas, hormon estrogen menstimulasi perkembangan duktus sedangkan progesteron merangsang pembentukan lobulus-alveolus. Keduanya tidak ada hubungannya dengan pengeluaran air susu. Maka untuk pengeluaran air susu distimulasi oleh hormon ketiga, prolaktin. Prolaktin merupakan hormon yang disekresikan oleh hipofisis anterior. Fungsi dari prolaktin adalah menstimulasi ekskresi air susu. Selama paruh pertama kehamilan, kelenjar payudara sebenarnya telah siap untuk memproduksi air susu, namun dihambat oleh estrogen dan progesteron kehamilan. Setelah kehamilan selesai, barulah kelenjar payudara bisa memproduksi air susu. • Steroid adrenal Steroid adrenal dihasilkan di korteks adrenal. Ada tiga hormon steroid adrenal, yaitu (1) mineralkortikoid, terutama aldoseteron, untuk kesetimbangan mineral, (2) glukokortikoid, terutama kortisol, untuk metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta (3) hormon seks yang identik dengan yang dihasilkan oleh gonad (ovarium pada wanita). Pada wanita, hormon seks yang dihasilkan oleh korteks adrenal ialah estrogen. Namun jumlahnya jauh lebih sedikit daripada estrogen yang dihasilkan di ovarium sehingga tidak terlalu bermakna. Selain itu, di korteks adrenal juga dihasilkan androgen dehidroepiandrosteron (DHEA). Pada pria, DHEA ini tidak bermakna karena dikalahkan oleh testosteron. Namun pada wanita (yang kurang memiliki androgen), DHEA ini memiliki makna fisiologis yaitu pertumbuhan rambut pubis dan aksila, pacu tumbuh pubertas serta perkembangan dan pemeliharaan dorongan seks wanita. • Growth hormone (GH) GH, selain berfungsi sebagai hormon pertumbuhan, juga memiliki efek pada pubertas. GH menstimulasi diferensiasi sel granulosa yang diinduksi oleh FSH, meningkatkan level IGF-1 di ovarium dan meningkatkan respons ovarium terhadap gonadotropin • Insulin-like growth factor-1 (IGF-1) IGF-1 meningkatkan efek gonadotropin pada sel granulosa dan bekerja secara sinergis dengan GH untuk maturasi ovarium postmenarche. • Insulin Pada waktu pubertas terjadi lonjakan kadar insulin plasma. Diketahui insulin memiliki korelasi positif kuat dengan IGF-1. Referensi 1. Guyton AC, Hall JE. Textbook of medical physiology. 11th ed. Pennsylvania: Elsevier Inc; 2006. p. 1011-22. 2. Sheerwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2nd ed. Jakarta: EGC; 2001. p. 633-732. 3. Vander et.al. Human physiology – the mechanism of body function. 8th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p. 681-3. 4. Ganong WF. Review of medical physiology. 20th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2001. p.505-6. 5. http://sectiocadaveris.wordpress.com/artikel-kedokteran/fisiologi-pubertas-pada-wanita/
1. Defenisi
Hipertiroidisme adalah kadar HT dalam darah yang berlebihan.
2. Anatomi dan Fisiologi Tyroid
Kelenjar Gondok atau Thyroid Gland (Tiroid) adalah kelenjar yang kecil berbentuk kupu, letaknya di bagian bawah leher, terdiri dari dua sayap yaitu lobus kanan dan kiri, serta penghubung di tengah yang disebut isthmus.
Kelenjar tiroid mengambil yodium dari darah (kebanyakan berasal dari makanan seperti seafood, roti, dan garam), yang digunakan untuk membentuk hormon.
Hormon dari tiroid adalah triiodothyronine atau T3, dan tetraiodothyronine (Thyroxin) atau T4. Kedua hormon ini diperlukan untuk energi, pembakaran, atau metabolisme sel tubuh. Jumlah T4 adalah 99.9% dan T3 0.1%, namun yang mempunyai efek pada tubuh terutama adalah T3, begitu dilepaskan dari kelenjar ke dalam darah, sebagian besar T4 akan diubah menjadi T3, yang akan dipakai untuk metabolisme sel.






Gambar 1. Anatomi Tiroid
Sumber : www.google.com, diakses tanggal 7 September 2007



3. Penyebab Hipertiroidisme
a. Hormon Spesifik
1) Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan keduanya.
2) Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar HT dan TSH yang tinggi. TRF akan rendah karena uinpan balik negatif dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.

b. Penyakit Hipertiroidisme
1) Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut immunoglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin), meningkatkan pembentukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari kadar HT yang tinggi. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyakit Grave tidak diketahui, namun tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, yang paling sering terkena adalah wanita berusia antara 20an sampai 30an.
2) Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu, tetap memproduksi HT dalam jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik.
3) Dapat terjadi adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus, walaupun jarang.

4. Gambaran Klinis
a. Peningkatan frekuensi denyut jantung
b. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap katekolamin
c. Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan
d. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar
e. "Mata Melotot"
f. Dapat terjadi eksoftalmus (penonjolan bola mata) Peningkatan frekuensi buang air besar
g. Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
h. Gangguan reproduksi

5. Tes Diagnostik
a. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
b. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
c. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia

6. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian

7. Penatalaksanaan
Pengobatan bergantung pada tempat dan penyebab hipertiroidisme.
a. Apabila masalahnya berada di tingkat kelenjar tiroid, maka pengobatan yang diberikan adalah pemberian obat antitiroid yang menghambat produksi HT dan/atau obat-obat penghambat beta untuk menurunkan hiperresponsivitas simpatis
b. Obat-obat yang merusak jaringan tiroid juga dapat diberikan. Misalnya, iodium radioaktif (I131) yang diberikan per oral akan diserap secara aktif oleh sel-sel tiroid yang hiperaktif. Setelah masuk,1131 akan merusak sel tersebut. Ini adalah terapi permanen untuk hipertiroidisme dan sering menyebabkan seseorang kemudian menjadi hipotiroid dan memerlukan pemberian HT pengganti seumur hidup
c. Tiroidektomi parsial atau total juga dapat merupakan pengobatan pilihan. Tiroidektomi total, dan mungIcin tiroidektomi parsial, menyebabkan hipotiroidisme.

B. Konsep Asuhan Keperawatan
Konsep asuhan keperawatan pada klien hipertiroidisme merujuk pada konsep yang dikutip dari Doenges (2000), seperti dibawah ini :
1. Pengkajian
a. Aktivitas atau istirahat
1) Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah, gangguan koordinasi, Kelelahan berat
2) Tanda : Atrofi otot
b. Sirkulasi
1) Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
2) Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur,
Peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat.
Sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis)
c. Eliminasi
1) Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuria, nocturia)
Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi)
Infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan abdomen
Diare, Urine encer, pucat, kuning, poliuria ( dapat berkembang menjadi oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi)
Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif ( diare )
d. Integritas / Ego
1) Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
2) Tanda : Ansietas peka rangsang
e. Makanan / Cairan
1) Gejala : Hilang nafsu makan, Mual atau muntah
Tidak mengikuti diet : peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik ( tiazid )
2) Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah
Pembesaran thyroid ( peningkatan kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah ), bau halitosis atau manis, bau buah ( napas aseton)
f. Neurosensori
1) Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot parasetia, gangguan penglihatan
2) Tanda : Disorientasi, megantuk, lethargi, stupor atau koma ( tahap lanjut), gangguan memori ( baru masa lalu ) kacau mental
Refleks tendon dalam (RTD menurun; koma)
Aktivitas kejang ( tahap lanjut dari DKA)
g. Nyeri / Kenyamanan
1) Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat)
Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
h. Pernapasan
1) Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen ( tergantung adanya infeksi atau tidak)
2) Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi pernapasan meningkat
i. Keamanan
1) Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
2) Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan umum / rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam )
j. Seksualitas
1) Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria ; kesulitan orgasme pada wanita
2) Tanda : Glukosa darah : meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih
Aseton plasma : positif secara menjolok
Asam lemak bebas : kadar lipid dengan kolosterol meningkat
k. Analisis Data : analisis data dilakukan dengan memperhatikan data-data yang ada dan disusun berdasarkan patofisiologi untuk merumuskan diagnosa keperawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme adalah sebagai berikut :
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
b. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
d. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata ; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus
e. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik
f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
g. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur

h.
perasi
3. Perencanaan / Intervensi
a. NDX : Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
Tujuan :
Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan kriteria :
1) Nadi perifer dapat teraba normal.
2) Vital sign dalam batas normal.
3) Pengisian kapiler normal
4) Status mental baik
5) Tidak ada disritmia
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi

2. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.

3. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)

4. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
5. Catat masukan dan haluaran
1. Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
2. Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia
3. S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik
4. Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung

5. Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan dehidrasi berat

b. NDX : Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
Tujuan : Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.
2. Ciptakan lingkungan yang tenang


3. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
4. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage 1. Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan
2. Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif, dan imsomnia
3. Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme
4. Meningkatkan relaksasi


c. NDX : Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
Tujuan : Klien akan menunjukkan berat badan stabil dengan kriteria :
1) Nafsu makan baik.
2) Berat badan normal
3) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Catat adanya anoreksia, mual dan muntah




2. Pantau masukan makanan setiap hari, timbang berat badan setiap hari


3. kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
1. Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia
2. Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid
3. Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat makanan yang adekuat dan mengidentifikasi makanan pengganti yang sesuai

d. NDX : Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus
Tujuan : Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi adanya edema periorbital
2. Evaluasi ketajaman mata


3. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
4. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 1. Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan
2. Oftalmopati infiltratif adalah akibat dari peningkatan jaringan retro-orbita
3. Melindungi kerusakan kornea

4. Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi
e. NDX :. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik
Tujuan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi dengan kriteria : Pasien tampak rileks
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas

2. Bicara singkat dengan kata yang sederhana



3. Jelaskan prosedur tindakan



4. Kurangi stimulasi dari luar 1. Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan imsomnis
2. Rentang perhatian mungkin menjadi pendek , konsentrasi berkurang, yang membatasi kemampuan untuk mengasimilasi informasi
3. Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan kesalahan interpretasi
4. Menciptakan lingkungan yang terapeutik



f. NDX : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan : : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa depan

2. Berikan informasi yang tepat


3. Identifikasi sumber stres



4. Tekankan pentingnya perencanaan waktu istirahat
5. Berikan informasi tanda dan gejala dari hipotiroid 1. Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihan berdasarkana informasi
2. Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang muncul akan menentukan tindakan pengobatan
3. Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam memunculkan/eksaserbasi dari penyakit ini
4. Mencegah munculnya kelelahan

5. Pasien yang mendapat pengobatan hipertiroid besar kemungkinan mengalami hipotiroid yang dapat terjadi segera setelah pengobatan selama 5 tahun kedepan

g. NDX : Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur
Tujuan : Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji proses pikir pasien seperti memori, rentang perhatian, orientasi terhadap tempat, waktu dan orang
2. Catat adanya perubahan tingkah laku




3. kaji tingkat ansietas

4. Ciptakan lingkungan yang tenang, turunkan stimulasi lingkungan


5. Orientasikan pasien pada tempat dan waktu


6. Anjurkan keluarga atau orang terdekat lainnya untuk mengunjungi klien.
7. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti sedatif/tranquilizer, atau obat anti psikotik. 1. Menentukan adanya kelainan pada proses sensori



2. Kemungkinan terlalu waspada, tidak dapat beristirahat, sensitifitas meningkat atau menangis atau mungkin berkembang menjadi psikotik yang sesungguhnya
3. Ansietas dapat merubah proses pikir
4. Penurunan stimulasi eksternal dapat menurunkan hiperaktifitas/refleks, peka rangsang saraf, halusinaso pendengara.
5. Membantu untuk mengembangkan dan mempertahankan kesadaran pada realita/lingkungan
6. membantu dalam mempertahankan sosialisasi dan orientasi pasien.
7. Meningkatkan relaksasi, menurunkan hipersensitifitas saraf/agitasi untuk meningkatkan proses pikir.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan adalah
a. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
b. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
c. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
d. Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
e. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
f. Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya
g. Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.
h. NDX. Risiko tinggi terhadap bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakea, spasme laringeal
Tujuan : pasien akan mempertahankan jalan nafas paten, aspirasi dicegah
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
8. Pantau frekuensi dan kedalaman pernafasan




9. Auskultasi suara nafas, catat adanya ronkhi


10. Kaji adanya stridor dan sianosis
11. Bantu perubahan aposisi, ajarkan relaksasi nafas dalam dan batuk efektif 8. Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distress pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trachea karena edema atau perdarahan
9. Ronkhi merupakan indikasi adanya obstruksi/spasme laryngeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat
10.


h. NDX. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi/manipulasi bedah terhadap jaringan/otot, edema pasca operasi
Tujuan : Klien akan menunjukkan nyeri berkurang / teratasi dengan kriteria :
a. Klien tidak mengeluh nyeri
b. Ekspresi wajah ceria

Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat nyeri



2. Observasi tanda-tanda vital




3. Ajarkan klien tekhnik relaksasi

4. Ajarkan klien tekhnik Gate Control
5. Pemberian analgetik 1. Nyeri disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan atau karena peningkatan asam laktat sebagai akibat deficit insulin
2. Pasien dengan nyeri biasanya akan dimanifestasikan dengan peningkatan vital sign terutama perubahan denyut nadi dan pernafasan
3. Nafas dalam dapat meningkatkan oksigenasi jaringan
4. Memblokir rangsangan nyeri pada serabut saraf
5. Analgetik bekerja langsung pada reseptor nyeri dan memblokir rangsangan nyeri sehingga respon nyeri dapat diminimalkan



10. NDx.: Kurang pengetahuan
Tujuan : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria
a. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
Intervensi :
Intervensi Rasional
6. 6.



1. Pengkajian
a. Tanyakan riwayat timbulnya gejala yang berkaitan dengan metabolisme yang meningkat, hal ini mencakup laporan klien dan keluarga mengenai keadaan klien yang mudah tersinggung (irritabel) dan peningkatan reaksi emosionalnya.
b. Kaji dampak perubahan yang dialami pada interaksi klien dengan keluarga, sahabat dan teman sekerjanya.
c. Tanyakan riwayat penyakit yang lalu mencakup faktor pencetus stres dan kemampuan klie unruk mengatasinya.
d. Kaji status nutris
e. Kaji timbulnya gejala yang b.d haluaran sistem saraf yang berlebihan dan perubahan pada penglihatan dan penampakkan mata.
f. Kaji keadaan jantung klien secara berkala meliputi frekuensi,, tekanan darah, bunyi jantung, dan denyut nadi perifer.
g. Kaji kondisi emosional dan psikologis.
h. Pengkajian klien juga ditujukan untuk mendeteksi iritabilitas, ansietas, gangguan tidur, apati, dan letargi.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan nutrisi yang berkaitan dengan laju metabolisme yang meningkat, selera makan yang berlebihan, dan aktivitas gastrointestinal yang bertambah.
b. Upaya mengatasi iritabilitas, hipereksitabilitas, kekhawatiran dan ketidakstabilan emosi yang tidak efektif.
c. Kepercayaan diri yang terganggu akibat perubahan pada penampilan, selera makan yang berlebihan dan penurunan berat badan.
d. Perubahan suhu tubuh

3. Perencanaan Dan Implementasi
a. Tujuan
1) Perbaikan status nutrisi
2) Peningkatan kemampuan untuk mengatasi keadaan
3) Peraasaan menghargai diri sendiri yang bertambah
4) Suhu tubuh normal dan tidak adanya komplikasi

b. Intervensi Keperawatan
1) Memperbaiki status nutrisi
a. Berikan makan dengan gizi yang baik dan seimbang (porsi kecil tapi sering tidak lebih 6 x sehari)
b. Pilihlah makanan dan cairan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui diare serta diaforesis dan untuk mengendalikan diare akibat peningkatan peristaltik usus.
c. Untuk menghindari diare  Hindari makanan yang berbumbu serta minuman stimulan seperti kopi, coca cola, teh dan alkohol
d. Ciptakan suasana yang tenang saat makan.
2) Meningkatkan tindakan koping
a. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa reaksi emosional yang dialami merupakan akibat dari penyakit dan bahwa terapi yang efektif akan mengendalikan gejala tersebut.
b. Lakukan pendekatan dengan cara tenang dan tiadk tergesa-gesa.
c. Hindarkan klien pada situasi yang dapat menyebabkan stress
d. Isolasi klien dari klien lain yang memiliki penyakit parah atau banyak bicara.
e. Pertahankan lingkungan yang tenang seperti mengurangi suara yang keras.
f. Jika dilakukan pembedahan  jelaskan pada klien tentang pembedahan yang akan dilakukan.
3) Memperbaiki harga diri
a. Tunjukkan perasan empati dan ekspresikan keinginan membantu dalam menghadapi masalah tersebut.
b. Informasikan pada klien dan keluarga bahwa perubahan ini terjadi akibat gangguan kelenjat tiroid.
c. Jika perubahan penampilan sudah sangat mengganggu  singkirkan semua cermin dikamar kllien dan anjurkan kelurga dan petugas kesehatan lainnya untuk tidak menyinggung perubahan yang terjadi disepan klien.
d. Jelaskan pada klien dan keluarga bahwa sebagaian besar perubahan ini diperkirakakan akan menghilang setelah terapi berhasil dengan baik..
e. Lakukan perlindungan dan perawatan pada mata (billa mata mengalami perubahan) ajarkan cara-cara penggunaan obat tetes dan salep mata untuk melindungi kornea yang terpajan.
f. Usahakan agar klien dapat makan tanpa diihat oleh orang lain (klien memiliki napsu makan yang besar) dan anjurkan perawat dan keluarga untuk tidak berkomentar saat klien makan  kemungkinan klien akan malu karena makan dengan porsi besar)
4) Mempertahankan suhu tubuh normal
a. Atur suhu kamar agar tetap nyaman dan sejuk
b. Sediakan sprei, sarung bantal serta pakaian yang baru sesuai dengan keperluan (klien selalu merasa gerah karena peningkatan laju metabolisme)
c. Siapkan air mandi yang sejuk, minuman yang sejuk atau dingin.
d. Observasi suhu tubuh klien.
e. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan rasa nyaman yang dialami oleh klien.


5) Pendidikan klien dan pertimbangan perawatan dirumah
a. Ajarkan cara pengobatan dan kapan menggunakan obat yang diresepkan.
b. Jelaskan efek terapi yang diharapkan selain efek samping yang mungkin timbul dari pengobatan yang dilakukan.
c. Anjurkan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan efek samping yang terjadi dari pengobatan.
d. Ajarkan klien untuk menghindari situasi yang dapat menyebabkan krisis tirotoksik yang dapat membawa kematian.
e. Observasi pemahaman klien dan keluarga tentang pentingnya pengobatan dan kepatuhan untuk mematuhi program pengobatan serta pemantauan tindak lanjut yang dianjurkan.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapakan
a. Memperbaiki status nutrisi
1) Melaporkan asupan diet yang adekuat dan berkurangnya rasa lapar
2) Mengenali makanan tinggi kalori tinggi protein dan makanan yang harus dihindari
3) Menghindari penggunaan alkohol dan minuman stimulan lain.
4) Melaporkan berkurangnya kejadian diare
b. Memperlihatkan koping yang efektif dalam menghadapi keluarga, sahabat, dan teman kerja.
1) Menjelaskan penyebab timbulnya perasaan mudah tersinggung dan ketidak stabilan emosi.
2) Menghindari situasi, kejadian, individu yang menimbulkan stress.
3) Berpartisipasi dalam kegiatan yang menghasilkan relaksasi dan tidak menimbulkan stress
c. Mencapai peningkatan harga diri.
1) Mengungkapkan dengan kata-kata perasaan tentang diri sendiri dan sakit yang dideritanya.
2) Menjelaskan perasaan frustrasi dan kehilangan kontrol dalam menghadapi orang lain.
3) Menjelaskan alasan yang mendasari peningkatan selera makannya.
d. Mepertahankan suhu tubuh yang normal
e. Tidak ada komplikasi.
1) Kadar hormon tiroid dalam serum dalam batas normal
2) Menyebutkan tanda dan gejala krisis tirotoksik serta hipotiroidisme.
3) Tanda-tanda vital, hasil EKG, gas darah arteri, serta pulsa oksimetri berada daam batas-batas normal
4) Menyebutkan pentingnya tindak lanjut yang teratur dan mempertahankan terapi yang diprogramkan.



























DAFTAR PUSTAKA
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori & Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC.
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi 3. Salemba:Medika.
NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
Willkinson. Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002
Darmojo, R. Boedhi. 2000. GERIATRI (Ilmu kesehatan usia lanjut). Jakarta: fakultas ilmu kedokteran.
Anatomi dan Fisiologi Pada Reproduksi Wanita



ALAT REPRODUKSI WANITA
Terdiri alat / organ eksternal dan internal, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
Eksternal (sampai vagina) : fungsi kopulasi
Internal : fungsi ovulasi, fertilisasi ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus, kelahiran.
Fungsi sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus - hipothalamus - hipofisis - adrenal - ovarium.
Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ekstragenital yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi : payudara, kulit daerah tertentu, pigmen dan sebagainya.

GENITALIA EKSTERNA
 Vulva
Tampak dari luar (mulai dari mons pubis sampai tepi perineum), terdiri dari mons pubis, labia mayora, labia minora, clitoris, hymen, vestibulum, orificium urethrae externum, kelenjar-kelenjar pada dinding vagina.
 Mons pubis / mons veneris
Lapisan lemak di bagian anterior symphisis os pubis.
Pada masa pubertas daerah ini mulai ditumbuhi rambut pubis.
 Labia mayora
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan belakang, banyak mengandung pleksus vena.
 Homolog embriologik dengan skrotum pada pria.
Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia mayora.
Di bagian bawah perineum, labia mayora menyatu (pada commisura posterior).

 Labia minora
Lipatan jaringan tipis di balik labia mayora, tidak mempunyai folikel rambut. Banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut saraf.
 Clitoris
Terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding anterior vagina.
Homolog embriologik dengan penis pada pria.
Terdapat juga reseptor androgen pada clitoris. Banyak pembuluh darah dan ujung serabut saraf, sangat sensitif.
 Vestibulum
Daerah dengan batas atas clitoris, batas bawah fourchet, batas lateral labia minora. Berasal dari sinus urogenital. Terdapat 6 lubang/orificium, yaitu orificium urethrae externum, introitus vaginae, ductus glandulae Bartholinii kanan-kiri dan duktus Skene kanan-kiri. Antara fourchet dan vagina terdapat fossa navicularis.
 Introitus / orificium vagina. Terletak di bagian bawah vestibulum. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan tipis bermukosa yaitu selaput dara / hymen, utuh tanpa robekan.
Hymen normal terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Corrunculae myrtiformis adalah sisa2 selaput dara yang robek yang tampak pada wanita pernah melahirkan / para.
 Hymen yang abnormal, misalnya primer tidak berlubang (hymen imperforata) menutup total lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia interna.

 Vagina
Rongga muskulomembranosa berbentuk tabung mulai dari tepi cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral. Daerah di sekitar cervix disebut fornix, dibagi dalam 4 kuadran : fornix anterior, fornix posterior, dan fornix lateral kanan dan kiri. Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid.
Fungsi vagina : untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid, untuk jalan lahir dan untuk kopulasi (persetubuhan). Bagian atas vagina terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar cervix uteri. Titik Grayenbergh (G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
 Perineum
Daerah antara tepi bawah vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani, m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda, m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong (episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.

GENITALIA INTERNA
 Uterus
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi peritoneum (serosa).
Selama kehamilan berfungsi sebagai tempat implatansi, retensi dan nutrisi konseptus.
Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri.
• Serviks uteri
Bagian terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos, jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum). Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/ multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
• Corpus uteri
Terdiri dari : paling luar lapisan serosa/peritoneum yang melekat pada ligamentum latum uteri di intraabdomen, tengah lapisan muskular/miometrium berupa otot polos tiga lapis (dari luar ke dalam arah serabut otot longitudinal, anyaman dan sirkular), serta dalam lapisan endometrium yang melapisi dinding cavum uteri, menebal dan runtuh sesuai siklus haid akibat pengaruh hormon-hormon ovarium. Posisi corpus intraabdomen mendatar dengan fleksi ke anterior, fundus uteri berada di atas vesica urinaria.
Proporsi ukuran corpus terhadap isthmus dan serviks uterus bervariasi selama pertumbuhan dan perkembangan wanita (gambar).
• Ligamenta penyangga uterus. Ligamentum latum uteri, ligamentum rotundum uteri, ligamentum cardinale, ligamentum ovarii, ligamentum sacrouterina propium, ligamentum infundibulopelvicum, ligamentum vesicouterina, ligamentum rectouterina.
• Vaskularisasi uterus. Terutama dari arteri uterina cabang arteri hypogastrica/illiaca interna, serta arteri ovarica cabang aorta abdominalis.
• Salping / Tuba Falopii. Embriologik uterus dan tuba berasal dari ductus Mulleri. Sepasang tuba kiri-kanan, panjang 8-14 cm, berfungsi sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai cavum uteri.
Dinding tuba terdiri tiga lapisan : serosa, muskular (longitudinal dan sirkular) serta mukosa dengan epitel bersilia. Terdiri dari pars interstitialis, pars isthmica, pars ampularis, serta pars infundibulum dengan fimbria, dengan karakteristik silia dan ketebalan dinding yang berbeda-beda pada setiap bagiannya (gambar).
1. Pars isthmica (proksimal/isthmus). Merupakan bagian dengan lumen tersempit, terdapat sfingter uterotuba pengendali transfer gamet.
2. Pars ampularis (medial/ampula). Tempat yang sering terjadi fertilisasi adalah daerah ampula / infundibulum, dan pada hamil ektopik (patologik) sering juga terjadi implantasi di dinding tuba bagian ini.
3. Pars infundibulum (distal). Dilengkapi dengan fimbriae serta ostium tubae abdominale pada ujungnya, melekat dengan permukaan ovarium. Fimbriae berfungsi “menangkap” ovum yang keluar saat ovulasi dari permukaan ovarium, dan membawanya ke dalam tuba.
 Mesosalping
Jaringan ikat penyangga tuba (seperti halnya mesenterium pada usus).
 Ovarium
Organ endokrin berbentuk oval, terletak di dalam rongga peritoneum, sepasang kiri-kanan. Dilapisi mesovarium, sebagai jaringan ikat dan jalan pembuluh darah dan saraf. Terdiri dari korteks dan medula.
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum (dari sel epitel germinal primordial di lapisan terluar epital ovarium di korteks), ovulasi (pengeluaran ovum), sintesis dan sekresi hormon-hormon steroid (estrogen oleh teka interna folikel, progesteron oleh korpus luteum pascaovulasi). Berhubungan dengan pars infundibulum tuba Falopii melalui perlekatan fimbriae. Fimbriae “menangkap” ovum yang dilepaskan pada saat ovulasi.
Ovarium terfiksasi oleh ligamentum ovarii proprium, ligamentum infundibulopelvicum dan jaringan ikat mesovarium. Vaskularisasi dari cabang aorta abdominalis inferior terhadap arteri renalis.
CATATAN :
Letak / hubungan anatomik antara organ2 reproduksi (uterus, adneksa, dsb) dengan organ2 sekitarnya di dalam rongga panggul (rektum, vesika urinaria, uretra, ureter, peritoneum dsb), vaskularisasi dan persarafannya, silakan baca sendiri.

ORGAN REPRODUKSI / ORGAN SEKSUAL EKSTRAGONADAL
1. Payudara
Seluruh susunan kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40 lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan.
Kulit daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually responsive organ.
2. Kulit
Di berbagai area tertentu tubuh, kulit memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan responsif secara seksual, misalnya kulit di daerah bokong dan lipat paha dalam.
Protein di kulit mengandung pheromone (sejenis metabolit steroid dari keratinosit epidermal kulit) yang berfungsi sebagai ‘parfum’ daya tarik seksual (androstenol dan androstenon dibuat di kulit, kelenjar keringat aksila dan kelenjar liur). Pheromone ditemukan juga di dalam urine, plasma, keringat dan liur.

POROS HORMONAL SISTEM REPRODUKSI
 Badan pineal
Suatu kelenjar kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu penonjolan dari bagian posterior ventrikel III di garis tengah. Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di depan serebelum pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan hipotalamus melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut saraf.
Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai “tempat roh”.
Hormon melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin reproduksi. Tampaknya melatonin menghambat produksi GnRH dari hipotalamus, sehingga menghambat juga sekresi gonadotropin dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi hormon dari gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya fase pubertas.
 Hipotalamus
Kumpulan nukleus pada daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di bawah talamus.
Tiap inti merupakan satu berkas badan saraf yang berlanjut ke hipofisis sebgai hipofisis posterior (neurohipofisis).
Menghasilkan hormon-hormon pelepas : GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone), TRH (Thyrotropin Releasing Hormone), CRH (Corticotropin Releasing Hormone) , GHRH (Growth Hormone Releasing Hormone), PRF (Prolactin Releasing Factor). Menghasilkan juga hormon-hormon penghambat : PIF (Prolactin Inhibiting Factor).
 Pituitari / hipofisis
Terletak di dalam sella turcica tulang sphenoid.
Menghasilkan hormon-hormon gonadotropin yang bekerja pada kelenjar reproduksi, yaitu perangsang pertumbuhan dan pematangan folikel (FSH - Follicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (LH - luteinizing hormone).
Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan juga hormon-hormon metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain.
 Ovarium
Berfungsi gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan pengeluaran sel telur (ovum). Selain itu juga berfungsi steroidogenesis, menghasilkan estrogen (dari teka interna folikel) dan progesteron (dari korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon gonadotropin.
 Endometrium
Lapisan dalam dinding kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi. Selama siklus haid, jaringan endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan sekresi, kemudian jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok kembali dan keluar berupa darah / jaringan haid.
Jika ada pembuahan / implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi. Fisiologi endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.

Histological appearance of endometrial tissues during the menstrual cycle.
A. Normal proliferative (postmenstrual) endometrium, showing small, tube-like pattern of glands.
B. Early secretory (postovulatory) endometrium, with prominent subnuclear vacuoles, alignment of nuclei, and active secretions by the endometrial glands.
C. Late secretory (premenstrual) endometrium, with predecidual stromal changes.
D. Menstrual endometrium, with disintegration of stroma / glands structures and stromal hemorrhage.

HORMON-HORMON REPRODUKSI
 GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
Diproduksi di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).
 FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis).
Pelepasannya periodik / pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.
 LH (Luteinizing Hormone) / ICSH (Interstitial Cell Stimulating Hormone)
Diproduksi di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus, LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam menghasilkan progesteron.
Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1 jam). Kerja sangat cepat dan singkat.
(Pada pria : LH memicu sintesis testosteron di sel-sel Leydig testis).
 Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis.
Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta.
Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks dan pengentalan lendir serviks.
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel vagina.
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Juga mengatur distribusi lemak tubuh.
Pada tulang, estrogen juga menstimulasi osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang.
Pada wanita pascamenopause, untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon estrogen (sintetik) pengganti.
 Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta.
Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.
 HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
Mulai diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta). Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar 100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml).
Berfungsi meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).
 LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum.
Pada kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental Lactogen).
Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa laktasi / pascapersalinan.
Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa amenorhea.

DAFTAR PUSTAKA
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/09/09/anatomi-dan-fisiologi-sistem-reproduksi-wanita-2/
http://bidanrindang.blogspot.com/2008/11/anatomi-dan-fisiologi-pada-reproduksi.html