Selasa, 08 Februari 2011

1. Defenisi
Hipertiroidisme adalah kadar HT dalam darah yang berlebihan.
2. Anatomi dan Fisiologi Tyroid
Kelenjar Gondok atau Thyroid Gland (Tiroid) adalah kelenjar yang kecil berbentuk kupu, letaknya di bagian bawah leher, terdiri dari dua sayap yaitu lobus kanan dan kiri, serta penghubung di tengah yang disebut isthmus.
Kelenjar tiroid mengambil yodium dari darah (kebanyakan berasal dari makanan seperti seafood, roti, dan garam), yang digunakan untuk membentuk hormon.
Hormon dari tiroid adalah triiodothyronine atau T3, dan tetraiodothyronine (Thyroxin) atau T4. Kedua hormon ini diperlukan untuk energi, pembakaran, atau metabolisme sel tubuh. Jumlah T4 adalah 99.9% dan T3 0.1%, namun yang mempunyai efek pada tubuh terutama adalah T3, begitu dilepaskan dari kelenjar ke dalam darah, sebagian besar T4 akan diubah menjadi T3, yang akan dipakai untuk metabolisme sel.






Gambar 1. Anatomi Tiroid
Sumber : www.google.com, diakses tanggal 7 September 2007



3. Penyebab Hipertiroidisme
a. Hormon Spesifik
1) Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan keduanya.
2) Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar HT dan TSH yang tinggi. TRF akan rendah karena uinpan balik negatif dari HT dan TSH. Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.

b. Penyakit Hipertiroidisme
1) Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut immunoglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin), meningkatkan pembentukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari kadar HT yang tinggi. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyakit Grave tidak diketahui, namun tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, yang paling sering terkena adalah wanita berusia antara 20an sampai 30an.
2) Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu, tetap memproduksi HT dalam jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik.
3) Dapat terjadi adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus, walaupun jarang.

4. Gambaran Klinis
a. Peningkatan frekuensi denyut jantung
b. Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap katekolamin
c. Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan
d. Penurunan berat, peningkatan rasa lapar
e. "Mata Melotot"
f. Dapat terjadi eksoftalmus (penonjolan bola mata) Peningkatan frekuensi buang air besar
g. Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
h. Gangguan reproduksi

5. Tes Diagnostik
a. Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf pusat atau kelenjar tiroid.
b. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
c. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia

6. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik (thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien hipertiroid yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia (sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian

7. Penatalaksanaan
Pengobatan bergantung pada tempat dan penyebab hipertiroidisme.
a. Apabila masalahnya berada di tingkat kelenjar tiroid, maka pengobatan yang diberikan adalah pemberian obat antitiroid yang menghambat produksi HT dan/atau obat-obat penghambat beta untuk menurunkan hiperresponsivitas simpatis
b. Obat-obat yang merusak jaringan tiroid juga dapat diberikan. Misalnya, iodium radioaktif (I131) yang diberikan per oral akan diserap secara aktif oleh sel-sel tiroid yang hiperaktif. Setelah masuk,1131 akan merusak sel tersebut. Ini adalah terapi permanen untuk hipertiroidisme dan sering menyebabkan seseorang kemudian menjadi hipotiroid dan memerlukan pemberian HT pengganti seumur hidup
c. Tiroidektomi parsial atau total juga dapat merupakan pengobatan pilihan. Tiroidektomi total, dan mungIcin tiroidektomi parsial, menyebabkan hipotiroidisme.

B. Konsep Asuhan Keperawatan
Konsep asuhan keperawatan pada klien hipertiroidisme merujuk pada konsep yang dikutip dari Doenges (2000), seperti dibawah ini :
1. Pengkajian
a. Aktivitas atau istirahat
1) Gejala : Imsomnia, sensitivitas meningkat, Otot lemah, gangguan koordinasi, Kelelahan berat
2) Tanda : Atrofi otot
b. Sirkulasi
1) Gejala : Palpitasi, nyeri dada (angina)
2) Tanda : Distritmia (vibrilasi atrium), irama gallop, murmur,
Peningkatan tekanan darah dengan tekanan nada yang berat. Takikardia saat istirahat.
Sirkulasi kolaps, syok (krisis tirotoksikosis)
c. Eliminasi
1) Gejala : Perubahan pola berkemih ( poliuria, nocturia)
Rasa nyeri / terbakar, kesulitan berkemih (infeksi)
Infeksi saluran kemih berulang, nyeri tekan abdomen
Diare, Urine encer, pucat, kuning, poliuria ( dapat berkembang menjadi oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat), urine berkabut, bau busuk (infeksi)
Bising usus lemah dan menurun, hiperaktif ( diare )
d. Integritas / Ego
1) Gejala : Stress, tergantung pada orang lain, Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
2) Tanda : Ansietas peka rangsang
e. Makanan / Cairan
1) Gejala : Hilang nafsu makan, Mual atau muntah
Tidak mengikuti diet : peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu, haus, penggunaan diuretik ( tiazid )
2) Tanda : Kulit kering atau bersisik, muntah
Pembesaran thyroid ( peningkatan kebutuhan metabolisme dengan pengingkatan gula darah ), bau halitosis atau manis, bau buah ( napas aseton)
f. Neurosensori
1) Gejala : Pusing atau pening, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada otot parasetia, gangguan penglihatan
2) Tanda : Disorientasi, megantuk, lethargi, stupor atau koma ( tahap lanjut), gangguan memori ( baru masa lalu ) kacau mental
Refleks tendon dalam (RTD menurun; koma)
Aktivitas kejang ( tahap lanjut dari DKA)
g. Nyeri / Kenyamanan
1) Gejala : Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang / berat)
Wajah meringis dengan palpitasi, tampak sangat berhati-hati.
h. Pernapasan
1) Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan / tanpa sputum purulen ( tergantung adanya infeksi atau tidak)
2) Tanda : sesak napas, batuk dengan atau tanpa sputum purulen (infeksi), frekuensi pernapasan meningkat
i. Keamanan
1) Gejala : Kulit kering, gatal, ulkus kulit
2) Tanda : Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi atau ulserasi, menurunnya kekuatan umum / rentang gerak, parastesia atau paralysis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam )
j. Seksualitas
1) Gejala : Rabas wanita ( cenderung infeksi ), masalah impotent pada pria ; kesulitan orgasme pada wanita
2) Tanda : Glukosa darah : meningkat 100-200 mg/ dl atau lebih
Aseton plasma : positif secara menjolok
Asam lemak bebas : kadar lipid dengan kolosterol meningkat
k. Analisis Data : analisis data dilakukan dengan memperhatikan data-data yang ada dan disusun berdasarkan patofisiologi untuk merumuskan diagnosa keperawatan.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada klien yang mengalami hipertiroidisme adalah sebagai berikut :
a. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
b. Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
c. Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
d. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata ; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus
e. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik
f. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
g. Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur

h.
perasi
3. Perencanaan / Intervensi
a. NDX : Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan hipertiroid tidak terkontrol, keadaan hipermetabolisme, peningkatan beban kerja jantung
Tujuan :
Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan kriteria :
1) Nadi perifer dapat teraba normal.
2) Vital sign dalam batas normal.
3) Pengisian kapiler normal
4) Status mental baik
5) Tidak ada disritmia
Intervensi :
Intervensi Rasional
1. Pantau tekanan darah pada posisi baring, duduk dan berdiri jika memungkinkan. Perhatikan besarnya tekanan nadi

2. Periksa kemungkinan adanya nyeri dada atau angina yang dikeluhkan pasien.

3. Auskultasi suara nafas. Perhatikan adanya suara yang tidak normal (seperti krekels)

4. Observasi tanda dan gejala haus yang hebat, mukosa membran kering, nadi lemah, penurunan produksi urine dan hipotensi
5. Catat masukan dan haluaran
1. Hipotensi umum atau ortostatik dapat terjadi sebagai akibat dari vasodilatasi perifer yang berlebihan dan penurunan volume sirkulasi
2. Merupakan tanda adanya peningkatan kebutuhan oksigen oleh otot jantung atau iskemia
3. S1 dan murmur yang menonjol berhubungan dengan curah jantung meningkat pada keadaan hipermetabolik
4. Dehidrasi yang cepat dapat terjadi yang akan menurunkan volume sirkulasi dan menurunkan curah jantung

5. Kehilangan cairan yang terlalu banyak dapat menimbulkan dehidrasi berat

b. NDX : Kelelahan berhubungan dengan hipermetabolik dengan peningkatan kebutuhan energi
Tujuan : Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Pantau tanda vital dan catat nadi baik istirahat maupun saat aktivitas.
2. Ciptakan lingkungan yang tenang


3. Sarankan pasien untuk mengurangi aktivitas
4. Berikan tindakan yang membuat pasien merasa nyaman seperti massage 1. Nadi secara luas meningkat dan bahkan istirahat , takikardia mungkin ditemukan
2. Menurunkan stimulasi yang kemungkinan besar dapat menimbulkan agitasi, hiperaktif, dan imsomnia
3. Membantu melawan pengaruh dari peningkatan metabolisme
4. Meningkatkan relaksasi


c. NDX : Risiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme (peningkatan nafsu makan/pemasukan dengan penurunan berat badan)
Tujuan : Klien akan menunjukkan berat badan stabil dengan kriteria :
1) Nafsu makan baik.
2) Berat badan normal
3) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Catat adanya anoreksia, mual dan muntah




2. Pantau masukan makanan setiap hari, timbang berat badan setiap hari


3. kolaborasi untuk pemberian diet tinggi kalori, protein, karbohidrat dan vitamin
1. Peningkatan aktivitas adrenergic dapat menyebabkan gangguan sekresi insulin/terjadi resisten yang mengakibatkan hiperglikemia
2. Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi antitiroid
3. Mungkin memerlukan bantuan untuk menjamin pemasukan zat-zat makanan yang adekuat dan mengidentifikasi makanan pengganti yang sesuai

d. NDX : Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan perubahan mekanisme perlindungan dari mata; kerusakan penutupan kelopak mata/eksoftalmus
Tujuan : Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi adanya edema periorbital
2. Evaluasi ketajaman mata


3. Anjurkan pasien menggunakan kaca mata gelap
4. Bagian kepala tempat tidur ditinggikan 1. Stimulasi umum dari stimulasi adrenergik yang berlebihan
2. Oftalmopati infiltratif adalah akibat dari peningkatan jaringan retro-orbita
3. Melindungi kerusakan kornea

4. Menurunkan edema jaringan bila ada komplikasi
e. NDX :. Ansietas berhubungan dengan faktor fisiologis; status hipermetabolik
Tujuan : Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi dengan kriteria : Pasien tampak rileks
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Observasi tingkah laku yang menunjukkan tingkat ansietas

2. Bicara singkat dengan kata yang sederhana



3. Jelaskan prosedur tindakan



4. Kurangi stimulasi dari luar 1. Ansietas ringan dapat ditunjukkan dengan peka rangsang dan imsomnis
2. Rentang perhatian mungkin menjadi pendek , konsentrasi berkurang, yang membatasi kemampuan untuk mengasimilasi informasi
3. Memberikan informasi yang akurat yang dapat menurunkan kesalahan interpretasi
4. Menciptakan lingkungan yang terapeutik



f. NDX : Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi
Tujuan : : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Tinjau ulang proses penyakit dan harapan masa depan

2. Berikan informasi yang tepat


3. Identifikasi sumber stres



4. Tekankan pentingnya perencanaan waktu istirahat
5. Berikan informasi tanda dan gejala dari hipotiroid 1. Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menentukan pilihan berdasarkana informasi
2. Berat ringannya keadaan, penyebab, usia dan komplikasi yang muncul akan menentukan tindakan pengobatan
3. Faktor psikogenik seringkali sangat penting dalam memunculkan/eksaserbasi dari penyakit ini
4. Mencegah munculnya kelelahan

5. Pasien yang mendapat pengobatan hipertiroid besar kemungkinan mengalami hipotiroid yang dapat terjadi segera setelah pengobatan selama 5 tahun kedepan

g. NDX : Risiko tinggi perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologik, peningkatan stimulasi SSP/mempercepat aktifitas mental, perubahan pola tidur
Tujuan : Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji proses pikir pasien seperti memori, rentang perhatian, orientasi terhadap tempat, waktu dan orang
2. Catat adanya perubahan tingkah laku




3. kaji tingkat ansietas

4. Ciptakan lingkungan yang tenang, turunkan stimulasi lingkungan


5. Orientasikan pasien pada tempat dan waktu


6. Anjurkan keluarga atau orang terdekat lainnya untuk mengunjungi klien.
7. Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi seperti sedatif/tranquilizer, atau obat anti psikotik. 1. Menentukan adanya kelainan pada proses sensori



2. Kemungkinan terlalu waspada, tidak dapat beristirahat, sensitifitas meningkat atau menangis atau mungkin berkembang menjadi psikotik yang sesungguhnya
3. Ansietas dapat merubah proses pikir
4. Penurunan stimulasi eksternal dapat menurunkan hiperaktifitas/refleks, peka rangsang saraf, halusinaso pendengara.
5. Membantu untuk mengembangkan dan mempertahankan kesadaran pada realita/lingkungan
6. membantu dalam mempertahankan sosialisasi dan orientasi pasien.
7. Meningkatkan relaksasi, menurunkan hipersensitifitas saraf/agitasi untuk meningkatkan proses pikir.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapkan adalah
a. Klien akan mempertahankan curah jantung yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuh
b. Klien akan mengungkapkan secara verbal tentang peningkatan tingkat energi
c. Klien akan menunjukkan berat badan stabil
d. Klien akan mempertahankan kelembaban membran mukosa mata, terbebas dari ulkus
e. Klien akan melaporkan ansietas berkurang sampai tingkat dapat diatasi
f. Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya
g. Mempertahankan orientasi realitas umumnya, mengenali perubahan dalam berpikir/berprilaku dan faktor penyebab.
h. NDX. Risiko tinggi terhadap bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakea, spasme laringeal
Tujuan : pasien akan mempertahankan jalan nafas paten, aspirasi dicegah
Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
8. Pantau frekuensi dan kedalaman pernafasan




9. Auskultasi suara nafas, catat adanya ronkhi


10. Kaji adanya stridor dan sianosis
11. Bantu perubahan aposisi, ajarkan relaksasi nafas dalam dan batuk efektif 8. Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distress pada pernafasan merupakan indikasi kompresi trachea karena edema atau perdarahan
9. Ronkhi merupakan indikasi adanya obstruksi/spasme laryngeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang cepat
10.


h. NDX. Nyeri akut berhubungan dengan interupsi/manipulasi bedah terhadap jaringan/otot, edema pasca operasi
Tujuan : Klien akan menunjukkan nyeri berkurang / teratasi dengan kriteria :
a. Klien tidak mengeluh nyeri
b. Ekspresi wajah ceria

Intervensi :
INTERVENSI RASIONAL
1. Kaji tingkat nyeri



2. Observasi tanda-tanda vital




3. Ajarkan klien tekhnik relaksasi

4. Ajarkan klien tekhnik Gate Control
5. Pemberian analgetik 1. Nyeri disebabkan oleh penurunan perfusi jaringan atau karena peningkatan asam laktat sebagai akibat deficit insulin
2. Pasien dengan nyeri biasanya akan dimanifestasikan dengan peningkatan vital sign terutama perubahan denyut nadi dan pernafasan
3. Nafas dalam dapat meningkatkan oksigenasi jaringan
4. Memblokir rangsangan nyeri pada serabut saraf
5. Analgetik bekerja langsung pada reseptor nyeri dan memblokir rangsangan nyeri sehingga respon nyeri dapat diminimalkan



10. NDx.: Kurang pengetahuan
Tujuan : Klien akan melaporkan pemahaman tentang penyakitnya dengan kriteria
a. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakitnya
Intervensi :
Intervensi Rasional
6. 6.



1. Pengkajian
a. Tanyakan riwayat timbulnya gejala yang berkaitan dengan metabolisme yang meningkat, hal ini mencakup laporan klien dan keluarga mengenai keadaan klien yang mudah tersinggung (irritabel) dan peningkatan reaksi emosionalnya.
b. Kaji dampak perubahan yang dialami pada interaksi klien dengan keluarga, sahabat dan teman sekerjanya.
c. Tanyakan riwayat penyakit yang lalu mencakup faktor pencetus stres dan kemampuan klie unruk mengatasinya.
d. Kaji status nutris
e. Kaji timbulnya gejala yang b.d haluaran sistem saraf yang berlebihan dan perubahan pada penglihatan dan penampakkan mata.
f. Kaji keadaan jantung klien secara berkala meliputi frekuensi,, tekanan darah, bunyi jantung, dan denyut nadi perifer.
g. Kaji kondisi emosional dan psikologis.
h. Pengkajian klien juga ditujukan untuk mendeteksi iritabilitas, ansietas, gangguan tidur, apati, dan letargi.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan nutrisi yang berkaitan dengan laju metabolisme yang meningkat, selera makan yang berlebihan, dan aktivitas gastrointestinal yang bertambah.
b. Upaya mengatasi iritabilitas, hipereksitabilitas, kekhawatiran dan ketidakstabilan emosi yang tidak efektif.
c. Kepercayaan diri yang terganggu akibat perubahan pada penampilan, selera makan yang berlebihan dan penurunan berat badan.
d. Perubahan suhu tubuh

3. Perencanaan Dan Implementasi
a. Tujuan
1) Perbaikan status nutrisi
2) Peningkatan kemampuan untuk mengatasi keadaan
3) Peraasaan menghargai diri sendiri yang bertambah
4) Suhu tubuh normal dan tidak adanya komplikasi

b. Intervensi Keperawatan
1) Memperbaiki status nutrisi
a. Berikan makan dengan gizi yang baik dan seimbang (porsi kecil tapi sering tidak lebih 6 x sehari)
b. Pilihlah makanan dan cairan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui diare serta diaforesis dan untuk mengendalikan diare akibat peningkatan peristaltik usus.
c. Untuk menghindari diare  Hindari makanan yang berbumbu serta minuman stimulan seperti kopi, coca cola, teh dan alkohol
d. Ciptakan suasana yang tenang saat makan.
2) Meningkatkan tindakan koping
a. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa reaksi emosional yang dialami merupakan akibat dari penyakit dan bahwa terapi yang efektif akan mengendalikan gejala tersebut.
b. Lakukan pendekatan dengan cara tenang dan tiadk tergesa-gesa.
c. Hindarkan klien pada situasi yang dapat menyebabkan stress
d. Isolasi klien dari klien lain yang memiliki penyakit parah atau banyak bicara.
e. Pertahankan lingkungan yang tenang seperti mengurangi suara yang keras.
f. Jika dilakukan pembedahan  jelaskan pada klien tentang pembedahan yang akan dilakukan.
3) Memperbaiki harga diri
a. Tunjukkan perasan empati dan ekspresikan keinginan membantu dalam menghadapi masalah tersebut.
b. Informasikan pada klien dan keluarga bahwa perubahan ini terjadi akibat gangguan kelenjat tiroid.
c. Jika perubahan penampilan sudah sangat mengganggu  singkirkan semua cermin dikamar kllien dan anjurkan kelurga dan petugas kesehatan lainnya untuk tidak menyinggung perubahan yang terjadi disepan klien.
d. Jelaskan pada klien dan keluarga bahwa sebagaian besar perubahan ini diperkirakakan akan menghilang setelah terapi berhasil dengan baik..
e. Lakukan perlindungan dan perawatan pada mata (billa mata mengalami perubahan) ajarkan cara-cara penggunaan obat tetes dan salep mata untuk melindungi kornea yang terpajan.
f. Usahakan agar klien dapat makan tanpa diihat oleh orang lain (klien memiliki napsu makan yang besar) dan anjurkan perawat dan keluarga untuk tidak berkomentar saat klien makan  kemungkinan klien akan malu karena makan dengan porsi besar)
4) Mempertahankan suhu tubuh normal
a. Atur suhu kamar agar tetap nyaman dan sejuk
b. Sediakan sprei, sarung bantal serta pakaian yang baru sesuai dengan keperluan (klien selalu merasa gerah karena peningkatan laju metabolisme)
c. Siapkan air mandi yang sejuk, minuman yang sejuk atau dingin.
d. Observasi suhu tubuh klien.
e. Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan rasa nyaman yang dialami oleh klien.


5) Pendidikan klien dan pertimbangan perawatan dirumah
a. Ajarkan cara pengobatan dan kapan menggunakan obat yang diresepkan.
b. Jelaskan efek terapi yang diharapkan selain efek samping yang mungkin timbul dari pengobatan yang dilakukan.
c. Anjurkan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan efek samping yang terjadi dari pengobatan.
d. Ajarkan klien untuk menghindari situasi yang dapat menyebabkan krisis tirotoksik yang dapat membawa kematian.
e. Observasi pemahaman klien dan keluarga tentang pentingnya pengobatan dan kepatuhan untuk mematuhi program pengobatan serta pemantauan tindak lanjut yang dianjurkan.

4. Evaluasi
Hasil yang diharapakan
a. Memperbaiki status nutrisi
1) Melaporkan asupan diet yang adekuat dan berkurangnya rasa lapar
2) Mengenali makanan tinggi kalori tinggi protein dan makanan yang harus dihindari
3) Menghindari penggunaan alkohol dan minuman stimulan lain.
4) Melaporkan berkurangnya kejadian diare
b. Memperlihatkan koping yang efektif dalam menghadapi keluarga, sahabat, dan teman kerja.
1) Menjelaskan penyebab timbulnya perasaan mudah tersinggung dan ketidak stabilan emosi.
2) Menghindari situasi, kejadian, individu yang menimbulkan stress.
3) Berpartisipasi dalam kegiatan yang menghasilkan relaksasi dan tidak menimbulkan stress
c. Mencapai peningkatan harga diri.
1) Mengungkapkan dengan kata-kata perasaan tentang diri sendiri dan sakit yang dideritanya.
2) Menjelaskan perasaan frustrasi dan kehilangan kontrol dalam menghadapi orang lain.
3) Menjelaskan alasan yang mendasari peningkatan selera makannya.
d. Mepertahankan suhu tubuh yang normal
e. Tidak ada komplikasi.
1) Kadar hormon tiroid dalam serum dalam batas normal
2) Menyebutkan tanda dan gejala krisis tirotoksik serta hipotiroidisme.
3) Tanda-tanda vital, hasil EKG, gas darah arteri, serta pulsa oksimetri berada daam batas-batas normal
4) Menyebutkan pentingnya tindak lanjut yang teratur dan mempertahankan terapi yang diprogramkan.



























DAFTAR PUSTAKA
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori & Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC.
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan edisi 3. Salemba:Medika.
NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
Willkinson. Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002
Darmojo, R. Boedhi. 2000. GERIATRI (Ilmu kesehatan usia lanjut). Jakarta: fakultas ilmu kedokteran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar